Sedikit berbagi ilmu, hasil tugas perancangan kota. Semoga Bermanfaat :)
Kota Humanis
1. Pengertian Kota Humanis
Ø
Desain humanis mengandung pengertian bagaimana
sebuah perancangan kota disesuaikan dengan kebutuhan aktivitas manusia di
dalamnya.
Ø
Dalam perancangan humanis, diharapkan dapat
meningkatkan kualitas humanis yang disarankan dalam berbagai aspek, khususnya
visual serta perhatian untuk aktivitas skala kecil, penggambaran orang
yang terlibat dalam suatu aktivitas, dan bagaimana suasana perancang ketika
sedang berada di kawasan tersebut (Browne Kenneth)
Ø
Perencanaan humanis berusaha untuk meningkatkan
kualitas kawasan yang sudah ada sebelumnya dan biasanya terkait dengan
perencanaan struktur sosial. Perancangan desain humanis menganjurkan penggunaan
lahan campuran dari lingkungan perkotaan, atau biasa disebut mixed uses yang
mengandalkan efektivitas lahan. Pada intinya desain humanis mengutamakan mixed
uses aktivitas manusia yang membuat suasana di dalamnya menjadi nyaman,
sehingga dapat disebut suatu kompleksitas yang terorganisir
Ø
Kota
humanis adalah keadaan suatu kota dimana terjadi keseimbangan antara aspek-aspek
pembentuk suatu kota, antara lain aspek ekonomi, aspek social, aspek budaya dan
lain-lain yang menjadi kunci keseimbangan pembangunan kota. Perkotaan yang humanis sangat dekat
kaitannya dengan kota hijau, dimana faktor elemen - elemen kota hijau adalah
titik tolak sebuah pembangunan kota yang humanis. Contoh pembangunan kota
humanis antara lain :
·
Pembangunan
trotoar yang hijau
·
Rehabilitasi
trotoar
·
Pembangunan
taman - taman kota
·
Pembangunan
ruang terbuka hijau.
Namun paradigma pembangunan suatu
kota saat ini cenderung hanya mementingkan aspek ekonomi saja, tanpa memperhatikan
aspek social, budaya bahkan aspek alam pun sering kali diabaikan. Fenomena ini
membuat masyarakat terutama di perkotaan menemui kegagalan dalam dalam
menciptakan kehidupan yang manusiawi (humanis). Perencanaan kota yang tidak
humanis antara lain kecepatan konversi lahan pertanian menjadi lahan non
pertanian (pemukiman dan lain-lain), berkurangnya ruang publik merupakan
ciri dan kharakter sebuah perencanaan kota yang tidak humanis, karena banyak
hal masyarakat yang terabaikan. Kondisi yang kurang humanis dalam sebuah kota
biasanya akan menciptakan kerawanan terhadap konflik sosial maupun krisis
lingkungan, hal ini disebabkan salah satunya karena kurangnya ruang ruang
terbuka untuk berinteraksi maupun kurangnya ruang terbuka hijau sebagai
katalisator lingkungan perkotaan. Tata guna
lahan di kawasan perkotaan saat ini sudah cenderung tidak memihak pada manusia
sebagai objek pembangunan yang akan merasakan manfaat dari pembangunan itu
sendiri.
Tata guna lahan yang humanis adalah penataan
guna/fungsi dari ruang-ruang (lahan) dalam suatu wilayah atau kota yang
mendukung kegiatan dasar manusia untuk menikmati kehidupannya. humanis disini
memang menekankan pada pro-manusia untuk dapat dengan mudah dan nyaman
melakukan kegiatan-kegiatan dasarnya. Penyediaan taman merupakan suatu langkah
untuk menuju tata guna lahan yang humanis. Karena dengan penyediaan ruang untuk
berekreasi di taman berarti turut memberikan ruang untuk mengekspresikan diri
melepaskan penat dari ruang-ruang yang menjenuhkan. Di taman anak-anak dapat
bermain, para orang tua dapat berinteraksi dengan bercengkrama dan sesekali
dapat terlibat dalam obrolan santai yang menyenangkan. Ini berarti dengan
memberikan/ merencanakan ruang-ruang publik seperti taman, telah mendukung apa
yang dimaksud dengan penataan guna lahan yang humanis.
Penyediaan pedestrian yang nyaman bagi para
pejalan kaki, juga merupakan contoh lain dari penataan guna lahan yang humanis.
Tata guna lahan yang humanis juga memiliki beberapa kriteria. Diatantaranya
adalah sebagai berikut :
·
Tata guna
lahannya harus saling mendukung (proporsional)
·
Memberikan
kemudahan dalam aksesibilitas bagi manusia yang berada dalam kawasan tersebut.
· Bersih, ramah
lingkungan, dan berwawasan.
·
Dalam suatu
kawasan memiliki fungsi mixed use yang dapat memberikan kemudahan bagi manusia
dalam memenuhi kebutuhannya.
Kriteria-kriteria
diatas merupakan kriteria-kriteria minimal untuk merencanakan penggunaan lahan
yang humanis. Semakin detail dan semakin tajam dalam analisis kondisi
masyarakat akan memberikan nilai yang lebih bagus dalam menata guna lahan suatu
kawasan ataupun wilayah. Karena sesungguhnya kriteria-kriteria humanis itu
lebih subjektif, bergantung dengan individu-ondividu itu sendiri. Akan tetapi,
terkadang kriteria humanis juga dipengaruhi oleh keadaan social dan budaya
masyarakat di kawasan tertentu
2. Contoh Kota Humanis
Kota
Solo Kota Surakarta yang juga sangat dikenal sebagai Kota Solo, merupakan
sebuah dataran rendah yang terletak di cekungan lereng pegunungan Lawu dan
pegunungan Merapi dengan ketinggian sekitar 92 m diatas permukaan air laut.
Dengan Luas sekitar 44 Km2, Kota Surakarta terletak diantara 110 45` 15″ – 110
45` 35″ Bujur Timur dan 70` 36″ – 70` 56″ Lintang Selatan. Kota Surakarta
dibelah dan dialiri oleh 3 (tiga) buah Sungai besar yaitu sungai Bengawan Solo,
Kali Jenes dan Kali Pepe. Sungai Bengawan Solo pada jaman dahulu sangat
terkenal dengan keelokan panorama serta lalu lintas perdagangan.
Keraton,
batik dan Pasar Klewer adalah tiga hal yang menjadi simbol identitas Kota
Surakarta. Eksistensi Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat dan Pura
Mangkunegaran (sejak 1745) menjadikan Solo sebagai poros, sejarah, seni dan
budaya yang memiliki nilai jual. Nilai jual ini termanifestasi melalui
bangunan-bangunan kuno, tradisi yang terpelihara, dan karya seni yang
menakjubkan. Tatanan sosial penduduk setempat yang tak lepas dari
sentuhan-sentuhan kultural dan spasial keraton semakin menambah daya tarik.
Salah satu tradisi yang berlangsung turun temurun dan semakin mengangkat nama
daerah ini adalah membatik. Seni dan pembatikan Solo menjadikan daerah ini
pusat batik di Indonesia.
Pariwisata
dan perdagangan ibarat dua sisi mata uang, dimana keduanya saling mendukung
dalam meningkatkan sektor ekonomi. Dengan segala brand dan eksistensi yang disandang
oleh kota Solo, kota Solo beberapa waktu terakhir juga menjadi buah bibir bagi
para pengembang wilayah. Kota Solo kini menambah satu julukan baru yaitu
julukan kota yang humanis. Kota yang humanis adalah sebuatan baru bagi kota
Solo, karena dianggap dalam penataannya sangat mendahulukan kepentingan
manusia. Penataan ruangnya bisa dikatakan manusiawi antara lain :
·
Di jalan Slamet Riyadi pedestrian di buat lebar lengkap dengan
fasilitas pendukung yang membuat pejalan kaki sangat nyaman, yaitu kanopi-kanopi
tumbuhan rambat yang membuat teduh dan mempercantik jalur pedestrian.
Disediakannya kursi-kursi disepanjang jalur pedestrian dengan jarak interval
kurang lebih 15-20 meter. Dirawatnya pohon-pohon peneduh yang membuat para
pejalan kaki menikmati semua kegiatannya disana. Para pedagang kaki lima,
tukang becak tidak diperkenankan bebas menggunakan ruang ini. Disepanjang jalur
ini bebas pedagang kaki lima dan para tukang becak. Jalur pedestrian ini
benar-benar di tata dan direncanakan untuk masyarakat yang gemar berjalan kaki
dalam melakukan aktivitasnya. Konsepnya benar-benar mendahulukan para pejalan
kaki. Para pejalan kaki ditempatkan pada posisi yang penting.
·
Pengadaan angkutan umum “batik solo trans”
·
Taman Balekambang sebagai Taman Kota Tempat-tempat publik
merupakan tempat dimana semua orang dapat saling bertemu tanpa ada yang
melarang. Taman Balekambang merupakan salah satu bentuk contohnya. Akan tetapi,
tidak semua tempat public bersifat humanis. Contohnya saja jalan, jalan
merupakan ruang terbuka public yang lebih mendahulukan kepentingan pengendara
daripada para pejalan kaki. Taman balekambang merupakan suatu taman kota yang
fungsinya sebagai daerah resapan air dan paru-paru kota Solo. Konsep dari taman
ini adalah Botanical Garden. Yang membuat taman ini masuk kedalam ruang public
yang humanis adalah saat orang-orang ingin menikmati keindahan dan kesejukan
taman ini mereka tidak harus membayar retribusi, fasilitas-fasilitas pendukung
yang ada juga mendahulukan kepentingan manusia nya. Hal-hal kecil seperti ini
merupakan suatu langkah untuk menuju kota yang humanis seperti slogan Bersih, rapi, sehat dan indah. Taman
balekambang sendiri dahulunya merupakan tempat peristirahatan Mangkunegaran
beserta keluarga. Pada kasunan Surakarta hadiningrat yang ke-7 area taman
Balekambang ini tidak terbuka untuk umum, barulah pada masa kasunan Surakarta
Hadiningrat ke-8 area taman Balekambang ini dibuka untuk umum. Untuk status
kepemilikan tanahnya sendiri saat ini adalah milik pemerintah kota Solo yang
dulunya adalah milik Mangkunegaran. Dan untuk mewujudkan suatu ruang terbuka
hijau yang dapat diakses oleh seluruh masyarakat Kota Solo, maka pada tahun
2007 kawasan taman Balekmbang di revitalisasi. Taman Balekambang ini seperti
yang telah dikatakan sebelumnya termasuk salah satu bentuk penggunaan lahan
yang humanis di kota Solo. Akan tetapi terkait dengan integrasi dengan fungsi
lainnya belum mengenai sasaran sepenuhnya. Belum tersediannya lahan parkir yang
cukup serta akses jalan yang cukup sulit bagi pengunjung yang tidak memiliki
kendaraan pribadi untuk menuju ke taman ini. Sehingga memang perlu dibenahi
dalam beberapa aspek agar fungsi taman kota ini lebih maksimal dan tujuan taman
yang humanis dapat tercapai.
·
Relokasi PKL Banjarsari ke Semanggi hampir tanpa adanya
pemberontakan dari para pedagang. Hal ini dikarenakan pendekatan yang
dilakukan, menggunakan proses yang yang sangat menjunjung tinggi nilai
kemanusiaan dan dalam proses yang relative lama. Yaitu dengan mlakukan
pendekatan dengan para pedagang. Dengan keahliannya berkomunikasi,
walikota Solo dianggap mampu mematahkan mitos pemindahan PKL harus berujung
pada bentrokan antara aparat dan pedagang,seperti yang terjadi diwilayahl ain.Empat
tahun lalu, sekitar 900 orang pedagang itu akhirnya mau meninggalkan Taman
Banjarsari di pusat Kota Solo menuju lokasi baru di Pasar Klitikan
·
Riverwalk Kalianyar salah satu bentuk revitalisasi daerah sempadan
sungai Penataan guna lahan di kawasan perkotaan memang harus detail dan tepat,
termasuk didalamnya adalah penataan kawasan sempadan sungai. Riverwalk
Kalianyar merupakan contoh lain dari pemanfaatan ruang yang sifatnya humanis.
Lahan yang dahulunya hanyalah suatu gundukan tanah yang tidak memiliki fungsi
yang jelas, kini lahan tersebut dimodifikasi menjadi suatu taman kecil
(Riverwalk) yang memberikan kesan humanis pada kota Solo. Lahan yang dahulunya
terkesan menjadikan sungai sebagai bagian belakang dari kawasan, kini sungai
dijadikan halaman dan view depan dari suatu landscape kawasan kota Solo. Konsep
yang digunakan dan dasar-dasar pemikiran dalam pembuatan riverwalk ini memang
sudah sesuai dengan konsep dan kriteria dalam penggunaan lahan di ruang
perkotaan untuk menuju kota yang humanis. Akan tetapi dalam pelaksanaannya
tidak semuanya sesuai. Tidak terawatnya taman serta sedikitnya masyarakat yang
memanfaatkan ruang ini sedikit memberikan gambaran bahwa taman yang sifatnya
humanis ini kurang diminati oleh masayarakat. Taman yang ada terkesan tidak
bermanfaat. Namun, langkah yang diambil dalam pembangunan riverwalk ini sudah
cukup bagus. Dengan dibangunnya riverwalk dipenggal pinggir Kalianyar
harapannya dapat memberikan percontohan bagi kawasan lain yang aliran sungainya
masih dijadikan sebagai halaman belakang.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar