Minggu, 31 Maret 2013

Kota Humanis

 Sedikit berbagi ilmu, hasil tugas perancangan kota. Semoga Bermanfaat :)                                                                      
Kota Humanis 
1.     Pengertian Kota Humanis
Ø   Desain humanis mengandung pengertian bagaimana sebuah perancangan kota disesuaikan dengan kebutuhan aktivitas manusia di dalamnya.
Ø  Dalam perancangan humanis, diharapkan dapat meningkatkan kualitas humanis yang disarankan dalam berbagai aspek, khususnya visual serta perhatian untuk aktivitas skala kecil, penggambaran orang yang terlibat dalam suatu aktivitas, dan bagaimana suasana perancang ketika sedang berada di kawasan tersebut (Browne Kenneth)
Ø  Perencanaan humanis berusaha untuk meningkatkan kualitas kawasan yang sudah ada sebelumnya dan biasanya terkait dengan perencanaan struktur sosial. Perancangan desain humanis menganjurkan penggunaan lahan campuran dari lingkungan perkotaan, atau biasa disebut mixed uses yang mengandalkan efektivitas lahan. Pada intinya desain humanis mengutamakan mixed uses aktivitas manusia yang membuat suasana di dalamnya menjadi nyaman, sehingga dapat disebut suatu kompleksitas yang terorganisir
Ø  Kota humanis adalah keadaan suatu kota dimana terjadi keseimbangan antara aspek-aspek pembentuk suatu kota, antara lain aspek ekonomi, aspek social, aspek budaya dan lain-lain yang menjadi kunci keseimbangan pembangunan kota. Perkotaan yang humanis sangat dekat kaitannya dengan kota hijau, dimana faktor elemen - elemen kota hijau adalah titik tolak sebuah pembangunan kota yang humanis. Contoh pembangunan kota humanis antara lain :
·         Pembangunan trotoar yang hijau
·         Rehabilitasi trotoar
·         Pembangunan taman - taman kota
·         Pembangunan ruang terbuka hijau.

Namun paradigma pembangunan suatu kota saat ini cenderung hanya mementingkan aspek ekonomi saja, tanpa memperhatikan aspek social, budaya bahkan aspek alam pun sering kali diabaikan. Fenomena ini membuat masyarakat terutama di perkotaan menemui kegagalan dalam dalam menciptakan kehidupan yang manusiawi (humanis). Perencanaan kota yang tidak humanis antara lain kecepatan konversi lahan pertanian menjadi lahan non pertanian (pemukiman dan lain-lain), berkurangnya ruang publik merupakan ciri dan kharakter sebuah perencanaan kota yang tidak humanis, karena banyak hal masyarakat yang terabaikan. Kondisi yang kurang humanis dalam sebuah kota biasanya akan menciptakan kerawanan terhadap konflik sosial maupun krisis lingkungan, hal ini disebabkan salah satunya karena kurangnya ruang ruang terbuka untuk berinteraksi maupun kurangnya ruang terbuka hijau sebagai katalisator lingkungan perkotaan. Tata guna lahan di kawasan perkotaan saat ini sudah cenderung tidak memihak pada manusia sebagai objek pembangunan yang akan merasakan manfaat dari pembangunan itu sendiri.
Tata guna lahan yang humanis adalah penataan guna/fungsi dari ruang-ruang (lahan) dalam suatu wilayah atau kota yang mendukung kegiatan dasar manusia untuk menikmati kehidupannya. humanis disini memang menekankan pada pro-manusia untuk dapat dengan mudah dan nyaman melakukan kegiatan-kegiatan dasarnya. Penyediaan taman merupakan suatu langkah untuk menuju tata guna lahan yang humanis. Karena dengan penyediaan ruang untuk berekreasi di taman berarti turut memberikan ruang untuk mengekspresikan diri melepaskan penat dari ruang-ruang yang menjenuhkan. Di taman anak-anak dapat bermain, para orang tua dapat berinteraksi dengan bercengkrama dan sesekali dapat terlibat dalam obrolan santai yang menyenangkan. Ini berarti dengan memberikan/ merencanakan ruang-ruang publik seperti taman, telah mendukung apa yang dimaksud dengan penataan guna lahan yang humanis.
Penyediaan pedestrian yang nyaman bagi para pejalan kaki, juga merupakan contoh lain dari penataan guna lahan yang humanis. Tata guna lahan yang humanis juga memiliki beberapa kriteria. Diatantaranya adalah sebagai berikut :
·    Tata guna lahannya harus saling mendukung (proporsional)
·    Memberikan kemudahan dalam aksesibilitas bagi manusia yang berada dalam  kawasan tersebut.
·   Bersih, ramah lingkungan, dan berwawasan.  
·   Dalam suatu kawasan memiliki fungsi mixed use yang dapat memberikan kemudahan bagi manusia dalam memenuhi kebutuhannya.
Kriteria-kriteria diatas merupakan kriteria-kriteria minimal untuk merencanakan penggunaan lahan yang humanis. Semakin detail dan semakin tajam dalam analisis kondisi masyarakat akan memberikan nilai yang lebih bagus dalam menata guna lahan suatu kawasan ataupun wilayah. Karena sesungguhnya kriteria-kriteria humanis itu lebih subjektif, bergantung dengan individu-ondividu itu sendiri. Akan tetapi, terkadang kriteria humanis juga dipengaruhi oleh keadaan social dan budaya masyarakat di kawasan tertentu
2.      Contoh Kota Humanis
Kota Solo Kota Surakarta yang juga sangat dikenal sebagai Kota Solo, merupakan sebuah dataran rendah yang terletak di cekungan lereng pegunungan Lawu dan pegunungan Merapi dengan ketinggian sekitar 92 m diatas permukaan air laut. Dengan Luas sekitar 44 Km2, Kota Surakarta terletak diantara 110 45` 15″ – 110 45` 35″ Bujur Timur dan 70` 36″ – 70` 56″ Lintang Selatan. Kota Surakarta dibelah dan dialiri oleh 3 (tiga) buah Sungai besar yaitu sungai Bengawan Solo, Kali Jenes dan Kali Pepe. Sungai Bengawan Solo pada jaman dahulu sangat terkenal dengan keelokan panorama serta lalu lintas perdagangan.
Keraton, batik dan Pasar Klewer adalah tiga hal yang menjadi simbol identitas Kota Surakarta. Eksistensi Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat dan Pura Mangkunegaran (sejak 1745) menjadikan Solo sebagai poros, sejarah, seni dan budaya yang memiliki nilai jual. Nilai jual ini termanifestasi melalui bangunan-bangunan kuno, tradisi yang terpelihara, dan karya seni yang menakjubkan. Tatanan sosial penduduk setempat yang tak lepas dari sentuhan-sentuhan kultural dan spasial keraton semakin menambah daya tarik. Salah satu tradisi yang berlangsung turun temurun dan semakin mengangkat nama daerah ini adalah membatik. Seni dan pembatikan Solo menjadikan daerah ini pusat batik di Indonesia.
Pariwisata dan perdagangan ibarat dua sisi mata uang, dimana keduanya saling mendukung dalam meningkatkan sektor ekonomi. Dengan segala brand dan eksistensi yang disandang oleh kota Solo, kota Solo beberapa waktu terakhir juga menjadi buah bibir bagi para pengembang wilayah. Kota Solo kini menambah satu julukan baru yaitu julukan kota yang humanis. Kota yang humanis adalah sebuatan baru bagi kota Solo, karena dianggap dalam penataannya sangat mendahulukan kepentingan manusia. Penataan ruangnya bisa dikatakan manusiawi antara lain :
·         Di jalan Slamet Riyadi pedestrian di buat lebar lengkap dengan fasilitas pendukung yang membuat pejalan kaki sangat nyaman, yaitu kanopi-kanopi tumbuhan rambat yang membuat teduh dan mempercantik jalur pedestrian. Disediakannya kursi-kursi disepanjang jalur pedestrian dengan jarak interval kurang lebih 15-20 meter. Dirawatnya pohon-pohon peneduh yang membuat para pejalan kaki menikmati semua kegiatannya disana. Para pedagang kaki lima, tukang becak tidak diperkenankan bebas menggunakan ruang ini. Disepanjang jalur ini bebas pedagang kaki lima dan para tukang becak. Jalur pedestrian ini benar-benar di tata dan direncanakan untuk masyarakat yang gemar berjalan kaki dalam melakukan aktivitasnya. Konsepnya benar-benar mendahulukan para pejalan kaki. Para pejalan kaki ditempatkan pada posisi yang penting.
·         Pengadaan angkutan umum “batik solo trans”
·         Taman Balekambang sebagai Taman Kota Tempat-tempat publik merupakan tempat dimana semua orang dapat saling bertemu tanpa ada yang melarang. Taman Balekambang merupakan salah satu bentuk contohnya. Akan tetapi, tidak semua tempat public bersifat humanis. Contohnya saja jalan, jalan merupakan ruang terbuka public yang lebih mendahulukan kepentingan pengendara daripada para pejalan kaki. Taman balekambang merupakan suatu taman kota yang fungsinya sebagai daerah resapan air dan paru-paru kota Solo. Konsep dari taman ini adalah Botanical Garden. Yang membuat taman ini masuk kedalam ruang public yang humanis adalah saat orang-orang ingin menikmati keindahan dan kesejukan taman ini mereka tidak harus membayar retribusi, fasilitas-fasilitas pendukung yang ada juga mendahulukan kepentingan manusia nya. Hal-hal kecil seperti ini merupakan suatu langkah untuk menuju kota yang humanis seperti slogan  Bersih, rapi, sehat dan indah. Taman balekambang sendiri dahulunya merupakan tempat peristirahatan Mangkunegaran beserta keluarga. Pada kasunan Surakarta hadiningrat yang ke-7 area taman Balekambang ini tidak terbuka untuk umum, barulah pada masa kasunan Surakarta Hadiningrat ke-8 area taman Balekambang ini dibuka untuk umum. Untuk status kepemilikan tanahnya sendiri saat ini adalah milik pemerintah kota Solo yang dulunya adalah milik Mangkunegaran. Dan untuk mewujudkan suatu ruang terbuka hijau yang dapat diakses oleh seluruh masyarakat Kota Solo, maka pada tahun 2007 kawasan taman Balekmbang di revitalisasi. Taman Balekambang ini seperti yang telah dikatakan sebelumnya termasuk salah satu bentuk penggunaan lahan yang humanis di kota Solo. Akan tetapi terkait dengan integrasi dengan fungsi lainnya belum mengenai sasaran sepenuhnya. Belum tersediannya lahan parkir yang cukup serta akses jalan yang cukup sulit bagi pengunjung yang tidak memiliki kendaraan pribadi untuk menuju ke taman ini. Sehingga memang perlu dibenahi dalam beberapa aspek agar fungsi taman kota ini lebih maksimal dan tujuan taman yang humanis dapat tercapai.
·         Relokasi PKL Banjarsari ke Semanggi hampir tanpa adanya pemberontakan dari para pedagang. Hal ini dikarenakan pendekatan yang dilakukan, menggunakan proses yang yang sangat menjunjung tinggi nilai kemanusiaan dan dalam proses yang relative lama. Yaitu dengan mlakukan pendekatan dengan para pedagang. Dengan keahliannya berkomunikasi, walikota Solo dianggap mampu mematahkan mitos pemindahan PKL harus berujung pada bentrokan antara aparat dan pedagang,seperti yang terjadi diwilayahl ain.Empat tahun lalu, sekitar 900 orang pedagang itu akhirnya mau meninggalkan Taman Banjarsari di pusat Kota Solo menuju lokasi baru di Pasar Klitikan
·         Riverwalk Kalianyar salah satu bentuk revitalisasi daerah sempadan sungai Penataan guna lahan di kawasan perkotaan memang harus detail dan tepat, termasuk didalamnya adalah penataan kawasan sempadan sungai. Riverwalk Kalianyar merupakan contoh lain dari pemanfaatan ruang yang sifatnya humanis. Lahan yang dahulunya hanyalah suatu gundukan tanah yang tidak memiliki fungsi yang jelas, kini lahan tersebut dimodifikasi menjadi suatu taman kecil (Riverwalk) yang memberikan kesan humanis pada kota Solo. Lahan yang dahulunya terkesan menjadikan sungai sebagai bagian belakang dari kawasan, kini sungai dijadikan halaman dan view depan dari suatu landscape kawasan kota Solo. Konsep yang digunakan dan dasar-dasar pemikiran dalam pembuatan riverwalk ini memang sudah sesuai dengan konsep dan kriteria dalam penggunaan lahan di ruang perkotaan untuk menuju kota yang humanis. Akan tetapi dalam pelaksanaannya tidak semuanya sesuai. Tidak terawatnya taman serta sedikitnya masyarakat yang memanfaatkan ruang ini sedikit memberikan gambaran bahwa taman yang sifatnya humanis ini kurang diminati oleh masayarakat. Taman yang ada terkesan tidak bermanfaat. Namun, langkah yang diambil dalam pembangunan riverwalk ini sudah cukup bagus. Dengan dibangunnya riverwalk dipenggal pinggir Kalianyar harapannya dapat memberikan percontohan bagi kawasan lain yang aliran sungainya masih dijadikan sebagai halaman belakang.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar